Keteladanan Seorang Pendidik Dalam Mendidik

Meneladani Seorang Pendidik

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الغفور الرحيم و صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Sukses Dalam Mendidik

Seorang pendidik baik itu ibu, ayah, maupun seorang guru, memiliki peran yang menentukan bagi kesuksesan suatu pendidikan sesudah Allah subhanahu wa ta’ala.

Adapun yang di maksud sukses di sini adalah output atau hasil dari proses suatu pendidikan yang kemudian menghasilkan ketaqwaan yang mendalam kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara selalu beribadah kepadanya, di manapun dan kapan pun.

Apa yang Sedang Terjadi Saat Ini ?

Kita lihat apa yang terjadi di zaman sekarang ini? Tingginya suatu titel dan gelar yang berjajar bukan lantas menjadi jaminan seseorang memiliki kualitas dalam mendidik, bahkan tidak sedikit di zaman sekarang ini orang yang berpendidikan tinggi tidak menjamin bertambah dekatnya dia kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Lantas apa yang harus di lakukan oleh seorang pendidik agar kualitas ilmu itu bisa lebih bermakna, agar ilmu tidak hanya menjadi hiasan pelengkap setelah nama kita sebagai gelar dari hasil pencapaian selama sekolah. Ilmu lebih dari itu karena ilmu yang benar-benar bermanfaat adalah ilmu yang menghasilkan buah ketaqwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Gebrakan Awal

Maka dari itu tugas seorang pendidik tidak hanya sekedar memberi asupan ilmu bagi otak saja, namun kering dari asupan batiniah atau rohaniah. Oleh karena itu faktor keteladanan menjadi sangat penting, sehingga akan menghasilkan barakah ilmu yang banyak. Dan ,ini tak boleh dilupakan karena pola pendidikan seperti ini merupakan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Karenanya perlu landasan kokoh dalam menangani pendidikan berpa adab-adab imaniyah yang harus di miliki setiap pendidik sebelum memulai tugas dalam mendidik, apapun metode yang ditempuhnya tak boleh keluar dari rel risalah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa salam. Yang pada hakikatnya mendidik umat agar menjadi insan yang hanya bertaqwa dan ber ibadah hanya kepada Allah saja, untuk kebahagian di dunia maupun di akhirat kelak.

Baca Juga: Surat Dalam al-Quran Ketika Hendak Tidur

Pokok Dari Adab Dalam Mendidik

Secara garis besar mungkin dapat di klasifikasikan menjadi beberapa bagian diantaranya adalah ikhlas

Dalam mendidik yang menjadi faktor utama yaitu ikhlas dikarenakan keikhlasan adalah pilar dan pondasi dari suatu amal perbuatan. Baguas atau rusaknya suatu perbuatan di lihat dari keikhlasan.

Rasulullah bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya, dan sesorang hanya mendapatkan sesuai niatnya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Yang di maksud dengan ikhlas adalah sesorang beramal bertujuan mencari wajah Allah dan ridha-Nya semata. (Bahjatu an-Nazhirin syarah Riyadhush ash-Shalihin).

Bagaimana Sikap Seorang Pendidik

Seorang pendidik baik sebagai guru maupun orang tua atau siapapun itu harus menjadikan semua kegiatan pengajaran dan pendidikannya hanya semata-mata untuk mencari ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan untuk mencari yang lain;  bukan demi gengsi, kepuasan duniawi, sanjungan, pujian, popularitas diri, atau maksud-maksud lainnya.

Ikhlas Dalam Beramal

Inilah yang merupakan syarat pertama bagi diterimanya amal perbuatan seseorang di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (Lihat adab al-Mu’alim al-Amaliyah at-Ta’limiyah min Khilal Kitab Syiar A’lam an-Nubala karya imam adz-Dzahabi).

Dalil al-Qur’an

Allah memerintahkan ikhlas ini dalam firmannya:

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”. (al-Bayyinah[98] ayat 5).

Ketidak ikhlasan akan mengakibatkan amal perbuatan serta aktivitas seorang menjadi sia-sia tanpa pahala dan bahkan bisa mengakibatkan kebinasaan bagi pelakunya.

Bahkan Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya:

وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (az-Zumar[39] ayat 65).

Artinya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sendiri dan nabi-nabi sebelum beliau mendapatkan peringatan akan bahayanya syirik.  Ketidak ikhlasan dalam beramal merupakan kemusyrikan Meskipun mungkin hanya berbentuk syirik asghar atau kecil yang tidak  menyebabkan pelakunya keluar atau murtad dari Islam tetapi menyebabkan amalan yang dia kerjakan tidak diterima namun bisa juga berbentuk syirik akbar yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam tergantung dari bagaimana bentuk ketidak ikhlasan nya ini sekaligus sebagai peringatan dagi kaum Muslimin tentang bahayanya syirik (Mempersekutukan Allah) dan bahayanya tidak ikhlas.

Dalam kisah yang diriwayatkan oleh imam Muslim rahimahullah juga disebutkan utamanya adalah untuk membangun nama dan pujian dari manusia bukan benar-benar ikhlas karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Padahal amalan yang dilakukannya termasuk amalan yang paling utama dan mulia. Yaitu berjihad dijalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, penghafal al-Quran serta mempelajari ilmu agama, dan banyak berderma. (Lihat dalam Sahih Muslim).

Baca Juga: Kumpulan Mufrodat Baina Yadaik

Ikhlas Dalam Pandangan Ulama

Bahkan Ulama besar seperti Sufyan ats-Tsauri rahimahullah (wafat 161 H) beliau pun merasa perlu untuk berjuah meraih keikhlasan, mempertahankan dan memperjuangkannya terus menerus.Beliau rahimahullah berkata: “Tidak ada sesuatu yang lebih sulit aku tangani  kecuali menata apa yang tersembunyi dalam hatiku, suatu kali Aku gagal dan suatu kali aku berhasil”. (Syiar A’lam an-Nubala karya Imam adz-Dzahabi).

Itulah ikhlas namun justru karena itulah ikhlas memiliki kedudukan mendasar yang menentukan bagi diterima atau tidaknya amalan perbuatan seseorang disisi Allah.

Seorang guru Ayah atau Ibu yang senantiasa berjuang mempertahankan keikhlasan dalam mendidik anak-anak serta putra-putrinya dalam arti Apa yang dilakukannya semata-mata sebagai ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala berarti ia telah mengantongi salah satu tanda penting bagi sukses dan diterimanya perjuangan yang dilakukannya, demikianlah semestinya semestinya yang ada pada setiap pendidik.

 

Referensi

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *