Menjadi Lebih Shaleh di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan Bulan Kemuliaan

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله الغفور الرحيم و صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Gambar: Suasana ibadah Masjidil Haram

Tidak Ada Nasihat Terbaik Selain Kematian

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.(Ali Imran [3]:185).

Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan” (HR. An Nasai no. 1824, Tirmidzi no. 2307 dan Ibnu Majah no. 4258 dan Ahmad 2: 292. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Al Albani).

Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma berkata:

“Seseorang bertanya pada Nabi sahallallahu ‘alihi wassalam:
‘Siapakah manusia paling cerdas?’ jawab Nabi:’Orang yang paling mengingat kematian dan paling mempersiapkan untuk kehidupan setelahnya, merekalah orang-orang cerdas’.”(HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah 2/419 berkata : hadits hasan).

Baca Juga : Pendaftaran baru imarat 2019

Kenapa Sih Mesti Ramadhan?

Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, ialah sebaik baik-baik bulan di antara bulan yang ada dalam satu tahun, dimana di turunkan di dalamnya malam Lailatul Qadar, satumalam tapi amalan di dalamnya lebih baik dari seribu bulan.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أتاكُم رَمضانُ شَهرٌ مبارَك ، فرَضَ اللَّهُ عزَّ وجَلَّ عليكُم صيامَه ، تُفَتَّحُ فيهِ أبوابُ السَّماءِ ، وتغَلَّقُ فيهِ أبوابُ الجحيمِ ، وتُغَلُّ فيهِ مَرَدَةُ الشَّياطينِ ، للَّهِ فيهِ ليلةٌ خيرٌ من ألفِ شَهرٍ ، مَن حُرِمَ خيرَها فقد حُرِمَ

Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah Ta’ala wajibkan kalian untuk berpuasa padanya, dibukakan padanya pintu-pintu langit, ditutup pintu-pintu neraka Jahim, dan dibelenggu setan-setan yang membangkang. Pada bulan tersebut, Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan (seseorang beribadah selama itu). Barangsiapa terhalang dari kebaikannya, sungguh ia orang yang terhalang (dari seluruh kebaikan)”.(Shahih. Hadits yang mulia dengan lafazh seperti ini diriwayatkan oleh an-Nasa-i (2106) dan Ahmad (12/59) dari hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu. Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah (1644) dari hadits Anas bin Malik radhiallahu’anhu. Lihat Shahih al-Jami’ (55) dan Shahih at-Targhib wat Tarhib (1/241 nomor 999 dan 1000). Dan sebagian lafazh dan makna hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhari (1899 dan 3277), dan Muslim (2/758 nomor 1079)).

“Makna hadist bahwa, pintu-pintu langit (dalam riwayat lain pintu surga) dibukakan ketika bulan Ramadhan, ini secara haqiqi (sebenarnya) bukan majazi (kiasan) sebagai sambutan dan petunjuk kemuliaan atas bulan tersebut, demikian pula pemberitahuan  kepada para malaikat akan masuknya bulan Ramadhan, sebagaimana dibukakan pintu-pintunya bagi setiap orang yang meninggal pada bulan tersebut dalam keadaan berpuasa lagi menunaikan kewajiban-kewajibannya tanpa merusaknya dengan yang diharamkan”.(Hamzah Muhammad Qasim dalam kitabnya Manarul Qari Syarah Mukhtasar Shahih al-Bukhari (KSA: Maktabah al-Muayyid, 1990)).

 

Artinya Ramadhan adalah salah satu momentum untuk meningkatkan potensi ke shalehan, dan memperbaiki diri.

Apa yang Mesti Pertama Kali Mesti di Perbaiki?

Pondasi segala amal perbuatan kita adalah iman, dan setinggi-tinggi cabang ke-imanan adalah Laa ilaha illallah, karena itu kalimat tauhid dan merupakan kunci surga, maka bersihkanlah Tauhid kita dari segala kesyirikan, tunaikan hak-hak Allah Subhanahu wa ta’ala, tunaikan hak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, demikian pula tunaikan hak-hak islam sehingga kita wafat dalam keadaan muslim dengan ke-Islaman yang sempurna.

 

Bagaiman Dengan Shalat Kita?

Shalat adalah amal pertama yang akan di hisab pada hari kiamat kelak, jika shalatnya baik maka baik pula amal-amal lainnya, coba rasakan bahwa ini adalah ramadhan terakhir kita melakukan shalat  di dalamnya, inilah kesempatan terakhir kita melakukan Qiyam Ramadhan, karena itulah Rasulullah pernah menyatakan:

Dari Abu Ayub Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ قَالَ إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ

“Seorang laki-laki menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Ya Rasulullah. Berilah aku nasehat yang ringkas.” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalau Engkau mengerjakan shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak meninggalkan (dunia). Jangan berbicara dengan satu kalimat yang esok hari kamu akan meminta udzur karena ucapan itu. Dan perbanyaklah rasa putus asa terhadap apa yang ditangan orang lain.”

(Hasan. Dikeluarkan oleh Ahmad (5/412), Ibnu Majah(4171), Abu Nu’aim dalam Al Hilyah (1/462) Al Mizzi (19/347) dan Lihat Ash Shahihah (401))

Maka dari itu hendaknya kita melakukan shalat kita dengan benar benar khusyuk, karena shalat kita merupakan penentu baik nya amalan kita yang lain, dan ketahuilah orang yang meninggal ingin  kembali walau hanya untuk sesaat agar bisa beribadah kepada Allah.

رَبِّ ارْجِعُونِ  لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

(Ketika datang kematian pada seseorang, lalu ia berkata): Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” (QS. Al Mu’minuun: 99-100).

 

Bagaimana Dengan Puasa Ramadhan yang Kita Lakukan?

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151).

Orang yang senatiasa berpuasa diberikan pintu khusus untuk masuk syurga, yakni pintu ar-Rayyan, orang yang berpuasa memiliki minimal dua kebahagiaan, yakni kebahagiaan ketika dia berbuka dengan kebahagiaan ketika dia berjumpa Allah Subhanahu wa ta’ala. Puasa Ramadhan adalah fasilitas terbaik untuk menjadi hamba-hamba Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah [2]: 183).

Dan barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan atas dasar ke-imanan dan mengharap pahala dari Allah Subhanahu wa ta’la maka Allah akan menghapus dosa-dosanya. Maka sungguh bagaimana ini adalah RAmadhan terakhir bagi kita.

Baca Juga: Jadwal SNMPTN 2019 Terbaru

Referensi:

  1. Rumaysho.com
  2. Muslim.co.id
  3. Muslimah.co.id
  4. Yufid.com

 

 

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *