Pandangan Islam Tentang Perayaan Valentine’s Day

Hukum Merayakan Valentine’s Day

cinta-qaritsa.net

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الغفور الرحيم و صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Bismillah, hallo sobat pembaca qaritsa.net, pada kesempatan kali ini InsyaAllah penulis akan membahas sesuatu kebiasaan yang sering muncul terkhusus pada bulan Februari. Ya, valentine’s day atau hari kasih sayang.

Ketahuilah sobat agama kita yaitu agama islam memiliki sikap yang tegas terhadap perayaan ini, yang tentunya penting sekali untuk diketahui.

Kira-kira bagaimana hukumnya yah?
Yuk kita simak!

Baca Juga: Motivasi Belajar menurun Menjelang Semester Akhir

Tanya Jawab Seputar Valentine’s Day

bertanya-qaritsa.net

Pertanyaan:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pernah di tanya sebagai berikut:

  • Akhir-akhir ini telah merebak perayaan valentine’s day dikalangan pelajar putri, dimana mereka menggenakan pakaian merah dan saling bertukar bunga berwarna merah pula, kami mohon agar Syaikh berkenan untuk menerangkan hukum perayaan tersebut, dan apa saran Syaikh untuk kaum muslimin sehubungan dengan masalah-masalah seperti ini. Semoga Allah menjaga dan memelihara Syaikh.

Jawaban:

Tidak boleh merayakan valentine’s day dengan berdasarkan sebab berikut:

  1. Bahwasannya itu adalah hari raya bid’ah yang tidak ada dasarnya dari syari’at.
  2. Bahwa itu akan menimbulkan kecengengan atau kecemburan.
  3. Bahwa itu akan menyebabkan sibuknya hati dengan perkara-perkara bodoh yang bertolak belakang dengan tuntunan para salaf.

Kesimpulan:

Karena itu, pada hari tersebut tidak boleh ada simbol-simbol perayaan, baik berupa makanan, minuman, pakaian, saling memberi hadiah atau sebagainya.

Hendaknya setiap muslim merasa mulia akan agamanya dan tidak merendahkan diri dengan menuruti setiap ajakan. Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala melindungi kaum muslimin dari setiap fitnah, baik yang nyata maupun tersembunyi, dan smoga Allah senantiasa membimbing kita dengan bimbingan dan petunjuknya.

(Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin, tanggal 5/11/1420 H yang beliau tandatangani).

Baca Juga: Tidak Boleh Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid

Bagaimana Hukum Merayakan Valentine’s Day?

Pertanyaan:

(Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-Ilmiyah wal ifta’ ditsnya: Setiap tahunnya pada tanggal 14 Februari, sebagian orang merayakan valentine’s day. Mereka saling bertukar hadiah berupa bunga merah, mengenakan pakaian berwarna merah, saling mengucapkan selamat dan sebagian toko permen membuat atau menyediakan permen-permen yang berwarna merah lengkap dengan gambar hati, Bahkan sebaguian toko mengiklankan produk-produknya yang dibuat khusus untuk memperingati hari tersebut. Bagaimana pendapat Syaikh tentang :

  1. Merayakan hal tersebut?
  2. Membeli produk-produk khusus pada hari itu?
  3. Transaksi jual beli di toko-toko yang ikut merayakan, yang menjual barang bisa dihadiahkan pada hari tersebut, kepada orang yang hendak merayakannya?
    Semoga Allah membalas Syaikh dengan kebaikan.

Jawaban:

Berdasarkan dalil dari Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah, para pendahulu umat telah sepakat bahwasannya hari raya bagi umat islam hanya ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha, selain itu semua hari raya yang berkaitan dengan seseorang, kelompok, peristiwa, atau lainnya adalah bid’ah, kaum muslimin tidak boleh melakukannya, mengakuinya dan menampakkan kegembiraan karenannya dan membantu terselenggaranya, karena ini merupakan perbuatan yang melanggar batas-batas Allah, sehingga begitu pelakunya telah berbuat aniyaya terhadap dirinya sendiri. Jika hari raya itu simbol orang-orang kafir, maka ini merupakan dosa lainnya, karena dengan begitu berarti telah bertasyabuh (menyerupai) mereka disamping berloyal terhadap mereka, padahal Allah telah melarang kaum mu’minin ber-tasyabuh dengan mereka dan loyal terhadap mereka di dalam kitabnya yang mulia, dan telah diriwayatkan dengan pasti dari Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda:

Dalil dari hadist

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, berarti ia termasuk golongan mereka”. (HR. Abu Dawud dala Al-Libas (4031), Ahmad (5093, 5094, 5634).

Valentine’s day termasuk yang disebutkan tadi, karena mereupakan hari raya Nasrani, maka seorang muslim yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir tidak boleh melakukannya, mengakuinya, atau ikut mengucapkan selamat, bahkan harusnya menjauhinya sebagai sikap taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta untuk menjauhi sebab-sebab yang bisa memunculkan kemurkaan Allah Subhanahu wa ta’ala dan siksa-Nya. Lain dari itu, diharamkan atas setiap muslim untuk membantu penyelenggaraan hari raya tersebut dan hari raya lainnya yang diharamkan, baik itu berupa makanan, minuman, penjualan, pembelian, produk, hadiah, surat, iklan dan sebagainnya, karena semua ini termasuk tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan serta maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, Sementara Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dalil dari ayat al-Qur’an

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaan-Nya”. (al-Ma’dah [5] ayat 2).

Dari itu, hendaknya setiap muslim berpegang teguh dengan Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah dalam semua kondisi, lebih pada saat-saat terjadinya fitnah dan banyaknya kerusakan. Hendaknya pula ia benar-benar waspada agar tidak terjerumus kepada kesesatan orang-orang yang dimurkai, orang-orang yang sesat, dan orang-orang fasik yang tidak mengharapkan kehormatan dari Allah dan tidak menghormati islam. Dan hendaknya seorang muslim kepada Allah dengan memohon petunjuk-Nya. Sesungguhnya, tidak ada yang dapat memberi petunjuk selain Allah dan tidak ada yang dapat meneguhkan dalam petunjuk-Nya selain Allah Subhanahu wa ta’ala hanya Allah lah yang kuasa memberi petunjuk.

Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

(Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyah wal ifta’ (21203) tanggal 22/11/1420 H).

Semoga Allah menjaga kita dari perbuatan-perbuatan yang dapat menjerumuskan kita kedalam kesesatan, aamiin.

 

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *