Rahasia Seputar Ilmu dan Pentingnya Hidayah

Ilmu Menjaga Hidayah

Qaritsa.com

Keutamaan Menuntut Ilmu

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman yang berbunyi:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui“. (Qs.Az-Zumar [39] ayat 9).

Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan: “Katakanlah olehmu (kepada mereka) apakah orang-orang yang mengenal Allah, mengenal agamanya, juga hikmah-hikmah yang ada di dalamnya, apakah sama mereka dengan  orang yang tidak mengetahuinya. Tentunya tidak sama perbedaan mereka seumpama malam dan siang, antara terang dan gelap, dan seperti perbedaan air dan api.” (Taisiru Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan Dalam Tafsir az-Zumar ayat 9).

Baca Juga : Pengertian Idofah dan Contohnya

Al-Hafidz ibnu Katsir berkata:

انّما يَتَذَكّرُاُوْلُوْالألْب أي انّما يَعلَمُ الْفَرْق بَيْنَ هذاوهذامن له ل وهو العقل

“Sesungguhnya orang yang berakal lah yang dapat menerima pelajaran”.

Maksudanya orang yang bisa membedakan antara orang yang berilmu dan tidak berilmu hanyalah orang yang berakal.(Tafsir ibnu Katsir dalam Tafsir az-Zumar ayat 9).

Nabi Diperintahkan Meminta Tambahan Ilmu

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ وَلا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Maka maha tinggi Allah Raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca al-Qur’an sebelum di  desempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkan kepadaku ilmu pengetahuan.” (Qs.Taha [20] ayat 114).

Dan firman Allah rabbi zidni ‘ilman (ربي زدني علما) sangat jelas menunjukan ilmu, karen Allah subhanahu wa ta’ala tidak memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta tambahan apapun kecuali tambahan ilmu, dan yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu agama, dengan seseorang mengetahui kewajibannya sebagai mukallaf dalam urusan agama, baik dalam ibadah maupun muamalah, demikian pula ilmu tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, juga kewajiban mensucikan nya dari segala kekurangan. Tentunya itu semua berporos pada ilmu tafsir, ilmu hadist, dan fiqih”. (Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari 1/141).

Menuntut Ilmu Agama Adalah Kewajiban

Imam al-Bukhari mencantumkan dalm kitab Sahihnya Bab Berilmu Sebelum Berucap dan Beramal, dengan ilmu agama ini maka kita akan tahu haqiqat atau kenyataan dalam hidup ini, karena itulah Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan kita menuntut imu agama.

“Menuntu ilmu (agama) adalah kewajiban bagi setiap muslim”. (Sahih di riwayatkan ibnu Majah dan di sahihkan oleh syekh al-Albani).

Kebaikan Dan Ilmu Agama

Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa dikehendaki baik oleh Allah niscaya Allah akan memberikan kepadanya pemahaman dalam masalah agama”. (Sahih diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).

Mafhum dari hadist di atas menunjukan bahwa, orang yang tidak belajar dasar-dasar agama dan cabang-cabang yang berkaitan dengannya, maka ia terhalang dari kebaikan”. (Tathriz Riyadhis Shalihin oleh Faisil bin Abdil Aziz an-Najdi I/754).

Menjaga Hidayah

Sungguh Hidayah  adalah karunia  dari Allah, yang di dapatkan dan dijaga dengan usaha yang di lakukan.

Hidayah terbagi menjadi dua:

  • Hidayah dalam arti bimbingan dalam bentuk ilmu penjelasan
  • Hidayah dalam arti Taufik kemampuan menjalankan ibadah dalam bentuk ilmu.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ

“Dan sesungguhnhya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. (as-Syura [42] ayat 52).

Maksudnya kamu menjelaskan (kebenaran) dan memotivasinya kepada mereka, kamupun melarang mereka dari kebalikannya (baca:Keburukan). (Taisirul Karimir Rahaman fil Tafsir Kalamil Mannan :762).

Dalam ayat lainnya Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ 

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Allah kehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (al-Qashas [28] ayat 56).

Dalam ayat pertama Allah berfirman: “kamu benar-benar memberi petunjuk” sementara dalam ayat kedua Allah berfirman: “kamu tidak akan dapat memberi petunjuk”, bagaimana cara memahami dua ayat ini?

Baca Juga: Tauhid Sebab Rasa Aman dan Penghapusan Dosa

Jawabanna adalah, hidayah (petunjuk) dalam ayat pertama di pahami sebagai hidayah dalam bentuk bimbingan, yang bisa dilakukan oleh Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, adapun hidayah yang kedua difahami sebagai hidayah dalam bentuk taufik, yakni kemampuan untuk menjalankan petunjuk, hidayah dalam bentuk kedua ini hanya bisa dilakukan oleh Allah saja, akan tetapi untuk mendapatkan hidayah yang kedua ini perlu di tempuh dengan jalan hidayah yang pertama maka di sinilah letak pentingnya menuntut ilmu agama.

Syarat-Syarat Menuntut Ilmu Agama

Imam asy-Syafii rahimahullah berkata:

“Saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam (perkara), yang akan kujelaskan rinciannya kepadamu”.

Cerdas,tekad yang kuat, sungguh-sungguh,bekal,menyertai guru, dan waktu yang lama”.

Syarat lainnya yang tidak kalah penting adalah bertaqwa kepada Allah, dan fokus dalam menuntut ilmu agama.

 

Referinsi

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *