Tauhid Sebab Rasa Aman dan Penghapusan Dosa

Keutamaan Tauhid

qaritsa.com

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الغفور الرحيم و صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Tauhid Memberi Rasa Aman

Tidak ada pengaruh yang baik dan keutamaan sesuatu apa pun yang melebihi Tauhid.

Karena sungguh segala kebaikan di dunia dan akhirat merupakan buah dan keutamaan dari tauhid ini.

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

” Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.” (Qs. al-An’am [6] ayat 82).

Faedah

Keutamaan tauhid dan buahnya yaitu seseorang akan mendapat keamanan di dunia maupun di akhirat serta dia pun akan mendapat petunjuk kepada jalan yang lurus. (Fat-hul Majid).

Baca Juga: Tauhid Dakwahnya Para Nabi dan Rasul

Tauhid dan Syurga

Dari ‘Ubadah bin Ash Shomit, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ ، أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ ، وَرُوحٌ مِنْهُ ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ

” Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada ilah  yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, Isa adalah hamba dan rasul-Nya, dan kalimatnya yang disampaikan kepada Maryam serta roh dari-Nya, Surga adalah benar adanya dan Neraka adalah benar adanya maka Allah memasukkannya ke dalam Surga bagaimanapun amal yang telah diperbuatnya”. (Diriwayatkan al-Bukhari no. 3435).

Syarah dan Fedah Hadist di Atas

1.  Syahadat atau persaksian Lailahaillallah (tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah).  Itu mengucapkan Lailahaillallah dengan mengetahui maknanya serta mengamalkan konsekuensinya, baik secara lahir maupun batin.  Adapun semata-mata mengucapkan tanpa mengetahui maknanya dan tanpa  keyakinan serta pengamalan terhadap tuntutan dari kalimat ini maka hal itu tidaklah bermanfaat sama sekali menurut ijma’ (Kesepakatan para ulama).

Makna Lailahaillallah adalah la ma’buda bi haqqin illallah ;  tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah. Dan yang dituntut dari kalimat ini adalah menafikan atau mengingkari kesyirikan dan mengikhlaskan perkataan serta perbuatan ; perkataan hati dan lisan serta perbuatan hati dan anggota badan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (Fat-hul Majid I/120).

2.  Pengertian bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.

Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka kita tidak boleh berlebih-lebihan terhadap beliau ;  Baik perkataan maupun perbuatan. Kita tidak boleh mengangkat beliau sampai ke derajat ketuhanan sehingga menjadikan sebagai sekutu bagi Allah, beliau adalah Rasul atau utusan Allah maka kita wajib beriman kepada beliau, membenarkan berita yang beliau sampaikan, mentaati perintah beliau, menjauhi larangan beliau, mengagungkan perintah dan anjuran beliau, serta tidak mengagungkan dan mendahulukan perkataan orang lain siapa pun orangnya atas perkataan beliau. (Fat-Hul Majid I/130).

3. Persaksian bahwa Nabi Isa A’laihi Salam adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.

Beliau adalah hamba Allah Subhanahu wa ta’ala, ini bantahan atas kaum Nasrani yang mempertuhankan beliau. Beliau adalah Rasul (utusan) Allah, ini bantahan terhadap orang Yahudi yang mendustakan beliau sebagai Nabi, bahkan menuduh beliau sebagai anak hasil zina, hingga berusah membunuh beliau. (Fat-hul Majid I/131, dan al-Qaulul Mufid I/72).

4,5.  Persaksian bahwa Surga yang Allah sediakan untuk orang-orang yang bertakwa adalah benar adanya;  serta bahwa Neraka yang Allah sediakan untuk orang-orang kafir adalah benar adanya. (Fat-hul Majid I/134).

Baca Juga: Pengertian Isim Dalam Bahasa Arab

Tauhid Menghapuskan Dosa

Dalam riwayat at-Tirmidzi dan beliau menghasankannya dari Anas bin Malik radiyallahuanhu: Aku pernah mendengar Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : (( قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَـى : يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةً )).

Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” [HR. at-Tirmidzi, dan beliau berkata: Hadits ini hasan shahih].

TAKHRIJ HADITS
Hadits shahih diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 3540) dan ini lafazhnya. Tirmidzi rahimahullah berkata, “Hadits ini hasan gharib.”

Syarah

Dalam kitab I’lamul Muwaqqi’in di jelaskan:

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang menjauhi segala jenis kesyirikan akan dihapuskan dosa-dosa besarnya sama dengan orang yang menjauhi dosa-dosa besar dosa-dosa kecilnya akan dihapuskan sebagaimana firman-Nya:

إِن تَجْتَنِبُوا۟ كَبَآئِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ

” Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu…” (Qs. An-Nisa [4] ayat 31).

 

Referensi

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *